Jumat, 23 September 2011

MiniLyrics 6.8.429 With Keygen

Software Apa Itu MiniLyrics??

MiniLyrics merupakan sebuah tool yang dapat menampilakan lyric sebuah lagu di player yang kita gunakan. Lyric nya juga secara otomatis berjalan dengan lagu yang sedang di nyayikan, mirip karaoke gitu deh sob. MiniLyrics secara otomatis mendownload lyric lagu yang akan kita putar. Pokoknya ini software sangat saya rekoemndasikan deh buat sobat blogger yang suka bernyanyi-nyayi atau buat sobat blogger yang ingin ikutan missing lyrics.

Apa Yang Baru di MiniLyrics 6.8.429 :
  • Improved: Add tooltip in advanced setting items.
  • Improved: Lyrics editor color settings are moved to lyrics editor window.
  • Improved: Scale background image in lyrics auto.
  • Improved: Add catalog in preference advanced items.
  • Improved: Add global lyrics displaying delay time setting.
  • Fixed: Embedded skin color theme can't be saved.
  • Fixed: When lyrics character encoding is changed, no prompt message is popped up.
  • Fixed: Save embedded lyrics in Songbird Player.
  • Fixed: Bug of adjusting time with down/up arrow in lyrics editor.
Berminat update?? Download aja,,

Download MiniLyrics 6.8.429 With Keygen

mikrobiologi

background image
Mekanisme Kerja Antibiotik
Usman Suwandi
Pusat Penelitian dan Pengembangan P.T. Kalbe Farma, Jakarta
PENDAHULUAN
Antibiotik merupakan substansi kimia yang diproduksi oleh
berbagai spesies mikroorganisme (bakteri, fungi, aktinomisetes),
mampu menekan pertumbuhan mikroba lain dan mungkin
membinasakan. Ada berpuluh-puluh antibiotik yang berharga
untuk terapi penyakit infeksi. Mereka berbeda satu sama lain
dalam beberapa hal seperti sifat fisika, kimia, farmakologis,
spektrum ntibakteri atau mekanisme kegiatannya.
Berdasarkan toksisitasnya, antibiotik dibagi dalam 2 ke-
lompok, yaitu antibiotik dengan aktivitas bakteriostatik bersifat
menghambat pertumbuhan mikroba dan aktivitas bakterisid
bersifat membinasakan mikroba lain. Antibiotik tertentu
aktivitasnyadapat ditingkatkan daribakteriostatik menjadi
bakterisid bila konsentrasinya ditingkatkan.
Antibiotik yang baik idealnya mempunyai aktivitas anti-
mikroba yang efektip dan selektip serta mempunyai aktivitas
bakterisid. Antibiotik yang sesuai untuk terapi penyakit infeksi
pada manusia harus mempunyai sifat toksisitas selektip yaitu
aktivitas gangguan pada mikroba penginfeksi lebih besar dari-
pada gangguan pada sel hospes. Derajat toksisitas selektip ter-
gantung pada struktur yang dimiliki sel bakteri dan manusia.
Misalnya dinding sel bakteri yang tidak dimiliki oleh sel
manusia, sehinggaantibiotikdengan mekanisme kegiatan pada
dinding sel bakteri mempunyai toksisitas selektip relatip tinggi.
Toksisitas selektip rendah kurang dapat diterima, karena dapat
mengganggu proses esensiil sel hospes. Banyak proses esensiil
pada bakteri yang dipengaruhi antibiotik mempunyai kemiripan
dengan proses esensiil pada sel manusia, seperti sintesis
protein, sehingga antibiotik tersebut j uga akan dapat
mengganggu proses pada
'
sel manusia.
Antibiotik menghambat pertumbuhan mikroba dengan cara
bakteriostatik atau bakterisid. Hambatan ini terjadi sebagai
akibat gangguan reaksi yang esensiil untuk pertumbuhan. Reaksi
ini mungkin merupakan satu-satunya jalan untuk mensintesis
makromolekul.seperti protein atau asam nukleat, sintesis struktur
sel seperti dinding sel atau membran sel dan sebagainya.
Antibiotik tertentu dapat menghambat beberapa reaksi.
Reaksi tersebut ada yang esensiil untuk pertumbuhan dan ada
yang kurang esensiii. Penghambatan pada beberapa reaksi dapat
terjadi secara langsung yaitu antibiotik langsung memblokir be-
berapa reaksi tersebut, namun masing-masing reaksi memerlu-
kan konsentrasi antibiotik yang berbeda. Ketergantungan pada
konsentrasi ini menggambarkan perbedaan kepekaan reaksi ter-
sebut terhadap antibiotik. Selain itu, pengaruh antibiotik juga
dapat terjadi secara tidak langsung yaitu berupa pengaruh
sekunder akibat gangguan pada reaksi lain sebagai pengaruh
primer. Dalam banyak hal ada kesulitan untuk membedakan
gangguan tersebut primer atau sekunder. Contoh antibiotik
yang mengganggu beberapa reaksi yaitu streptomisin, antara
lain mempengaruhi sintesis protein, sintesis RNA & DNA,
integritas membran sel dan respirasi, tetapi tidak diketahui
apakah semuanya merupakan pengaruh primer atau sekunder.
Dalam beberapa hal mekanisme kegiatan antibiotik sukar
diterangkan, karena beberapa alasan, seperti :
1.
Kesulitan menetapkan gangguan tersebut sebagai pengaruh
sekunder atau primer.
2.
Kebanyakan antibiotik merupakan substansi kimia yang
rumit dan sering tidak mungkin disintesis secara kimia, se-
hingga sulit membuat antibiotik bertanda radioaktif.
3.
Reaksi esensiil yang diblokir, mungkin belum diketahui
dengan jelas.
4.
Metabolisme organisme berbeda satu sama lain walaupun
pada prinsipnya sama, sehingga mekanisme kegiatan pada
satu organisme, mungkin bukan cara antibiotik tersebut
menghambat pertumbuhan organisme lainnya.
Namun demikian para ahli telah berusaha menerangkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
56
background image
mekanisme kerja antibiotik pada sel mikroba. Berdasarkan
pengamatan mereka cara antibiotik menghambat mikroba me-
lalui mekanisme yang berbeda.
1.
Antibiotik menghambat sintesis dinding sel mikroba.
2.
Antibiotik mengganggu membran sel mikroba.
3.
Antibiotik menghambat sintesis protein dan asam nukleat
mikroba.
4.
Antibiotik mengganggu metabolisme sel mikroba.
ANTIBIOTIK PENGHAMBAT SINTESIS DINDING SEL
MIKROBA
Ada antibiotik yang merusak dinding sel mikroba dengan
menghambat sintesis ensim atau inaktivasi ensim, sehingga
menyebabkan hilangnya viabilitas dan sering menyebabkan sel
lisis. Antibiotik ini meliputi penisilin, sepalosporin, sikloserin,
vankomisin, ristosetin dan basitrasin. Antibiotik ini
menghambat sintesis dinding sel terutama dengan mengganggu
sintesis peptidoglikan.
Dinding sel bakteri menentukan bentuk karakteristik dan
berfungsi melindungi bagian dalam sel terhadap perubahan
tekanan osmotik dan kondisi lingkungan lainnya. Di dalam sel
terdapat sitoplasma ailapisi dengan membran sitoplasma yang
merupakan tempat berlangsungnya proses biokimia sel.
Dinding sel bakteri terdiri dari beberapa lapisan. Pada bakteri
gram posi tip struktur dinding selnya relatip sederhana dan
gram negatip relatip lebih komplek.
Dinding sel bakteri gram positip tersusun atas lapisan
peptidoglikan relatip tebal, dikelilingi lapisan teichoic acid dan
pada beberapa species mempunyai lapisan polisakarida.
Dinding sel bakteri gram negatip mempunyai lapisan
peptidoglikan relatip tipis, dikelilingi lapisan lipoprotein,
lipopolisakarida, fosfolipid dan beberapa protein.
Peptidoglikan pada kedua jenis bakteri merupakan kompo-
nen yang menentukan rigiditas pada gram positip dan berperanan
pada integritas gram negatip. Oleh karena itu gangguan pada
sintesis komponen ini dapat menyebabkan sel lisis dan dapat
menyebabkan kematian sel. Antibiotik yang menyebabkan
gangguan sintesis lapisan ini aktivitasnya akan lebih nyata pada
bakteri gram positip. Aktivitas penghambatan atau membina-
sakan hanya dilakukan selama pertumbuhan sel dan aktivitasnya
dapat ditiadakan dengan menaikkan tekanan osmotik media
untuk mencegah pecahnya sel. Bakteri tertentu seperti miko-
bakteriadan halobakteria mempunyai peptidoglikan relatip
sedikit , sehingga kurang terpengaruh oleh antibiotik grup ini.
Sel selama mensintesis peptidoglikan memerlukan ensim
hidrolase dan sintetase. Untuk menjaga sintesis supaya normal,
kegiatan kedua ensim ini harus seimbang satu sama lain. Bio-
sintesis peptidoglikan berlangsung dalam beberapa stadium dan
antibiotik pengganggu sintesis peptidoglikan aktip pada
stadium yang berlainan. Sikloserin terutama menghambat
ensim racemase dan sintetase yang berperan dalam
pembentukan dipeptida. Vankomisin bekerja pada stadium
kedua diikuti oleh basitrasin, ristosetin dan diakhiri oleh
penisilin dan sefalosporin yaitu menghambat transpeptidase.
Perbedaan antara sel mamalia dan bakteri yaitu dinding sel
luar bakteri tebal dengan membran sel menentukan bentuk sel
dan memberi ketahanan terhadap tekanan osmotik. Karena
struktur dinding sel mamalia tidak sama dengan dinding
g
el
bakteri, maka antibiotik yang mempunyai aktivitas
mengganggu sintesis dinding sel mempunyai toksisitas selektip
sangat tinggi. Oleh karena itu antibiotik tipe ini merupakan
antibiotik yang sangat berharga.
ANTIBIOTIK PENGGANGGU MEMBRAN SEL
Di bawah dinding sel bakteri adalah lapisan membran sel
lipoprotein yang dapat disamakan dengan membran sel pada
manusia. Membran ini mempunyai sifat permeabilitas selektip
dan berfungsi mengontrol keluar masuknya substansi dari dan
ke dalam sel, serta memelihara tekanan osmotik internal dan
ekskresi waste products. Selain itu membran sel juga berkaitan
dengan replikasi DNA dan sintesis dinding sel. Oleh karena itu
substansi yang mengganggu fungsinya akan sangat lethal ter-
hadap sel. Beberapa antibiotik yang dikenal mempunyai me-
kanisme kerja mengganggu membran sel yaitu antibiotik
peptida (polimiksin, gramisidin, sirkulin, tirosidin, valinomisin)
dan antibiotik polyene (amphoterisin, nistatin, filipin).
Membran sel merupakan lapisan molekul lipoprotein yang
dihubungkan dengan ion Mg. Sehingga agen chelating yang
berkompetisi dengan Mg selama pembentukan membran, dapat
meningkatkan permeabilitas sel atau menyebabkan sel lisis.
Beberapa antibiotik bersatu dengan membran dan berfungsi se-
bagai iondphores.yaitu senyawa yang memberi jalan masuknya
ion abnormal. Proses ini dapat mengganggu biokimia sel, misal-
nya gramicidin. Polimiksin dapat merusak membran sel setelah
bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel. Sehingga
polimiksin lebih aktip terhadap bakteri gram negatip daripada
gram positip yang mempunyai jumlah fosfor lebih rendah.
Antibiotik polyene hanya bekerja pada fungi tetapi tidak
aktip pada bakteri. Dasar selektivitas ini, karena mereka bekerja
berikatan dengan sterol yang ada pada membran fungi dan
organisme yang lebih tinggi lainnya. Secara in vitro polyene
dapat menyebabkan hemolisis, karena diduga membran sel darah
merah mengandung sterol sebagai tempat aktivitas antibiotik
polyene. Amfoterisin B juga dapat digunakan untuk infeksi
sistemik tetapi sering disertai efek samping anemia hemolitik.
Kerusakan membran sel dapat menyebabkan kebocoran se-
hingga komponen-komponen penting di dalam sel seperti
protein, asam nukleat, nukleotida dan lain-lain dapat mengalir
keluar. Diduga struktur membran ini ada pada mamalia, oleh
karena itu antibiotik ini mempunyai toksisitas selektip relatip
kecil dibanding antibiotik yang bekerja pada dinding sel bakteri,
sehinggadalam penggunaan sistemik antibiotik ini relatip toksik;
untuk mengurangi toksisitasnya dapat digunakan secara topikal.
ANTIBIOTIK PENGHAMBAT SINTESIS PROTEIN
DAN ASAM NUKLEAT
Penghambatan sintesis protein dapat berlangsung di dalam
ribosom. Berdasarkan koefisien sedimentasinya, ribosom di-
kelompokkan dalam 3 grup.
1)
Ribosom 80s, terdapat pada sel eukariot. Partikel ini terdiri
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 57
background image
dari subunit 60s dan 40s.
2)
Ribosom 70s, didapatkan pada sel prokariot dan eukariot.
Partikel ini terdiri dari subunit 50s dan 30s.
3)
Ribosom 55s, hanya terdapat pada mitokondria mamal ia
dan menyerupai ribosom bakteri baik fungsi maupun
kepekaannya terhadap antibiotik.
Untuk memelihara kelangsungan hidupnya, sel mikroba
perlu men.sintesis protein yang berlangsung di dalam ribosom
bekerja sama dengan mRNA dan tRNA; gangguan sintesis
protein akan berakibat sangat fatal dan antimikroba dengan
mekanisme kerja seperti ini mempunyai daya antibakteri sangat
kuat. Antibiotik kelompok ini meliputi aminoglikosid, makrolid,
linkomisin, tetrasiklin, kloramphenikol, novobiosin, puromisin.
Penghambatan biosintesis protein pada sel prokariot ini
bersifat sitostatik, karena mereka dapat menghentikan pertum-
buhan dan pembelahan sel. Bila sel dipindahkan ke media bebas
antibiotik, mereka dapat tumbuh kembali setelah antibiotik ber-
kurang dari sel kecuali streptomisin yang mempunyai aktivitas
bakterisid. Pengaruh zat ini terhadap sel eukariot diperkirakan
sitotoksik. Beberapa penghambat ribosom 80s seperti
puromisin dan sikloheksimid sangat toksik terhadap sel
mamalia, oleh karena itu tidak digunakan untuk terapi, sedang
tetrasiklin mempunyai toksisitas relatip kecil bila digunakan
oleh orang dewasa. Tetrasiklin menghambat biosintesis protein
yang terdapat pada ribosom 80s dan 70s. Er
y
tromisin berikatan
dengan ribosom 50s. Streptomisin berikatan dengan ribosom
30s dan menyebabkan kode mRNA salah dibaca oleh tRNA,
sehingga terbentuk protein abnormal dan non fungsionil.
Asam nukleat merupakan bagian yang sangat vital bagi
perkembangbiakan sel. Untuk pertumbuhannya, kebanyakan sel
tergantung pada sintesis DNA, sedang RNA diperlukan untuk
transkripsi dan menentukan informasi sintesis protein dan ensim.
Ada beberapa jenis RNA yaitu t-RNA, r-RNA, m-RNA, masing-
masing mempunyai peranan pada sintesis protein. Begitu pen-
tingnya asam nukleat bagi sel, maka gangguan sintesis DNA atau
RNA dapat memblokir pertumbuhan sel. Namun antimikroba
yang mempunyai mekanisme kegiatan seperti ini pada umumnya
kurang selektip dalam membedakan sel bakteri dan sel mamalia.
Antimikroba ini umumnya bersifat sitotoksik terhadap sel ma-
malia. Sehinggapenggunaan antimikroba jenis ini harus hati-
hati dan selektip yaitu yang sifat sitotoksiknya masih dapat
diterima. Seperti asam nalidiksat dan rifampisin, karena
aktivitasnya sangatkuatdalam menghambatpertumbuhan, maka
antimikroba dengan mekanisme seperti ini sering digunakan
sebagai anti-tumor.
Antimikroba yang mempengaruhi sintesis asam nukleat
dan protein mempunyai mekanisme kegiatan pada tempat yang
berbeda, antara lain .
1.
Antimikroba mempengaruhi replikasi DNA, seperti
bleomisin, phleomisin, mitomisin, edeine, porfiromisin.
2.
Antimikroba mempengaruhi transkripsi, seperti aktinomisin,
krrmomisin, ekonomisin, rifamisin, korisepin, streptolidigin.
3.
Antimikroba mempengaruhi pembentukan aminoacyl-
tRNA, seperti borrelidin.
4.
Antimikroba mempengaruhi translasi, antara lain kloram-
phenikol, streptomisin, neomisin, kanamisin, karbomisin,
crytromisin, linkomisin, fluidic acid, tetrasiklin.
Antimikroba yang mempengaruhi sintesis protein dan
asam nukleat, mayoritas aktif pada bagian translasi dan di
antara mereka banyak yang berguna dalam terapi. Karena
mekanisme translasi antara sel bakteri dan sel eukariot berbeda,
maka mungkin mereka memperlihatkan toksisitas selektip.
PENUTUP
Mekanisme kegiatan antara antibiotik yang satu dengan
yang lain dapat berbeda. Selain gangguan pada dinding sel,
membran, sintesis protein dan asam nukleat, beberapa anti-
mikroba seperti sulfonamid, trimetroprim, PAS dan sulfon juga
memperlihatkan mekanisme kerja menghambat metabolisme
sel. Dengan mekanisme terakhir tersebut, antimikroba mem-
punyai aktivitas bakteriostatik. Antimikroba sulfonamid dan
sulfa terutama aktif terhadap mikroba yang mensintesis asam
folat bagi kelangsungan hidupnya dengan cara berkompetisi
dengan asam amino benzoat (PABA), sedang trimetroprim be-
kerja menghambat ensim dihidrofolat reduktase; ensim ini ber-
fungsi mengubah asam dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat
sebagai bentuk aktif asam folat. Selain itu beberapa
antimikroba menghambat konsumsi oksigen mikroba. Namun
antimikroba ini mempunyai toksisitas selektip relatif kecil.
Antimikroba yang mempunyai mekanisme kerja
menghambat pembentukan dinding sel mempunyai selektivitas
lebih besar dan toksisitas relatif lebih rendah dibandingkan
antimikroba penghambat sintesis asam nukleat. Dan yang perlu
diperhatikan, kalau suatu antimikroba dinyatakan mempunyai
mekanisme kegiatan tertentu, itu bukan berarti antimikroba
tersebut hanya bekerja dengan cara tersebut, tetapi mungkin
juga dapat aktif dengan mekanisme yang lain. Karena dalam
proses biokimia, reaksi yang satu erat berhubungan dengan
reaksi yang lain, maka pengaruh sutu reaksi dapat
menimbulkan pengaruh pada reaksi yang Jain. Itulah salah satu
kesulitan untuk menentukan apakah gangguan tersebut
merupakan efek primer atau efek sekunder. Sebagai contoh,
aktivitas antibiotik streptomisin mempengaruhi sintesis protein,
sintesis RNA & DNA, integritas membran sel dan respirasi.
Bahkan ada yang mengusulkan, streptomisin memperlihatkan
pengaruhnya pada 14 sistem biokimia yang berbeda.
KEPUSTAKAAN
1.
Franklin TJ, Snow .GA. Biochemistry of antimicrobial action. 2nd ed.
London: Chapman & Hall. 1975: 22-138.
2.
Gan VHS. Antimikroba. Dalam: Farmakologi dan Terapi, 2nd ed. Bagian
Farmakologi FKUI, Jakarta. 1980: 443-61
background image
3.
Garrod LP, Lambert HP, O'Grady F. Antibiotics and chemotherapy. 5th ed.
123-36. New York: Churchill Livingstone. 1981: 251-61
4.
Sande MA, Mandell GL. Chemotherapy of microbial diseases. In:
Goodman Pharmacological Basis of Therapeutics. 5th ed. New York:
McMillan Publ. Co. Inc. 198. p. 1080-1105.
5.
Snow GA. Mechanisms of action of antibiotics. In: Pharmaceutical Micro
biology. Hugo WB, Russell AD (eds). Blackwell Scient. Publ. 1977. p.
123­36.
6.
Weinstein L. Chemotherapy of microbial diseases. In: Goodman & Gill-
man's. Pharmacological Basis of Therapeutics. 5th ed. New York:
McMillan and Gillman's Publ. Co. Inc. 198. p. 1090-1112.
7.
Zahner H, Maas WK. Biology of antibiotics. New York: Springer - Verlag.
1972; 62­69
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 59

BAB V. TRANSKRIPSI

Pokok bahasan di dalam bab ini meliputi prinsip dasar transkripsi, yang mencakup
ciri-ciri dan tahapan transkripsi, transkripsi pada prokariot, dan transkripsi pada eukariot,
dengan  penekanan  pada  karakteristik  enzim  RNA  polimerasenya.  Setelah  mempelajari
pokok bahasan di dalam bab ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan:
1.   prinsip dasar transkripsi,
2.   transkripsi pada prokariot, khususnya pada bakteri Escherichia coli, dan
3.   transkripsi pada eukariot.
Pengetahuan  awal  yang  diperlukan oleh  mahasiswa  agar  dapat mempelajari pokok
bahasan  ini  dengan  lebih  baik  adalah  struktur  asam  nukleat  dan  replikasi  DNA,  yang
masing-masing telah dijelaskan pada Bab II dan Bab IV.  Selain itu, konsep dasar tentang
gen  dan  transkripsi  yang  telah  diperoleh  pada  mata  kuliah  Genetika  juga  sangat
mendukung pemahaman materi bahasan di dalam bab ini.

Prinsip Dasar Transkripsi
Pada Bab IV telah disebutkan bahwa fungsi dasar kedua yang harus dijalankan oleh
DNA  sebagai  materi  genetik  adalah  fungsi  fenotipik.  Artinya,  DNA  harus  mampu
mengatur  pertumbuhan  dan  diferensiasi  individu  organisme  sehingga  dihasilkan  suatu
fenotipe tertentu.   Fungsi  ini dilaksanakan  melalui ekspresi gen,  yang  tahap pertamanya
adalah proses transkripsi, yaitu perubahan urutan basa molekul DNA menjadi urutan basa
molekul  RNA.  Dengan  perkataan  lain,  transkripsi  merupakan  proses  sintesis  RNA
menggunakan salah satu untai molekul DNA sebagai cetakan (templat)nya.
Transkripsi  mempunyai  ciri-ciri  kimiawi  yang  serupa  dengan  sintesis/replikasi
DNA, yaitu
1.   Adanya sumber basa nitrogen berupa nukleosida  trifosfat. Bedanya dengan  sumber
basa untuk  sintesis DNA  hanyalah pada  molekul gula pentosanya  yang  tidak berupa
deoksiribosa tetapi ribosa dan tidak adanya basa timin tetapi digantikan oleh  urasil.
Jadi,  keempat  nukleosida  trifosfat  yang  diperlukan  adalah  adenosin  trifosfat  (ATP),
guanosin trifosfat (GTP), sitidin trifosfat (CTP), dan uridin trifosfat (UTP).
2.   Adanya untai molekul DNA sebagai cetakan. Dalam hal ini hanya salah satu di antara
kedua untai  DNA  yang  akan  berfungsi  sebagai  cetakan  bagi sintesis  molekul RNA.
Untai DNA ini mempunyai urutan basa yang komplementer dengan urutan basa RNA





48


hasil  transkripsinya,  dan  disebut  sebagai  pita  antisens.  Sementara  itu,  untai  DNA
pasangannya,  yang  mempunyai  urutan  basa  sama  dengan urutan basa  RNA,  disebut
sebagai  pita  sens.  Meskipun  demikian,  sebenarnya  transkripsi  pada  umumnya  tidak
terjadi pada urutan basa di sepanjang salah satu untai DNA. Jadi, bisa saja urutan basa
yang ditranskripsi terdapat berselang-seling di antara kedua untai DNA.  
3.   Sintesis berlangsung dengan arah 5’→ 3’ seperti halnya arah sintesis DNA.
4.   Gugus  3’-  OH  pada  suatu  nukleotida  bereaksi  dengan  gugus  5’-  trifosfat  pada
nukleotida  berikutnya  menghasilkan  ikatan  fosofodiester  dengan  membebaskan  dua
atom  pirofosfat  anorganik  (PPi).  Reaksi  ini  jelas  sama  dengan  reaksi  polimerisasi
DNA.  Hanya  saja  enzim  yang  bekerja  bukannya  DNA  polimerase,  melainkan  RNA
polimerase.  Perbedaan  yang  sangat  nyata  di  antara  kedua  enzim  ini  terletak  pada
kemampuan  enzim  RNA  polimerase  untuk  melakukan  inisiasi  sintesis  RNA  tanpa
adanya molekul primer.   
Secara  garis  besar  transkripsi  berlangsung  dalam  empat  tahap,  yaitu  pengenalan
promoter,  inisiasi,  elongasi,  dan  teminasi.  Masing-masing  tahap  akan  dijelaskan  secara
singkat sebagai berikut.

Pengenalan promoter
Agar  molekul  DNA  dapat  digunakan  sebagai  cetakan  dalam  sintesis  RNA,  kedua
untainya  harus  dipisahkan satu  sama  lain di  tempat-tempat  terjadinya  penambahan basa
pada  RNA.  Selanjutnya,  begitu  penambahan  basa  selesai  dilakukan,  kedua  untai  DNA
segera  menyatu  kembali.  Pemisahan  kedua  untai  DNA  pertama  kali  terjadi  di  suatu
tempat  tertentu,  yang  merupakan  tempat  pengikatan  enzim  RNA  polimerase  di  sisi  5’
(upstream)  dari  urutan  basa  penyandi  (gen)  yang  akan  ditranskripsi.  Tempat  ini
dinamakan promoter

Inisiasi
Setelah  mengalami  pengikatan  oleh  promoter,  RNA  polimerase  akan  terikat  pada
suatu  tempat di dekat promoter, yang dinamakan  tempat awal polimerisasi  atau tapak
inisiasi  (initiation site).  Tempat ini sering dinyatakan sebagai posisi +1 untuk  gen  yang
akan  ditranskripsi.  Nukleosida  trifosfat  pertama  akan  diletakkan  di  tapak  inisiasi  dan
sintesis RNA pun segera dimulai. 









Elongasi




49


Pengikatan  enzim  RNA  polimerase beserta  kofaktor-kofaktornya  pada  untai  DNA
cetakan membentuk kompleks transkripsi. Selama sintesis RNA berlangsung kompleks
transkripsi  akan bergeser  di sepanjang  molekul  DNA  cetakan  sehingga nukleotida  demi
nukleotida akan ditambahkan kepada untai RNA yang sedang diperpanjang pada ujung 3’
nya. Jadi, elongasi atau polimerisasi RNA berlangsung dari arah 5’ ke 3’, sementara RNA
polimerasenya sendiri bergerak dari arah 3’ ke 5’ di sepanjang untai DNA cetakan. 

Terminasi
Berakhirnya  polimerisasi  RNA  ditandai  oleh  disosiasi  kompleks  transkripsi  atau
terlepasnya  enzim  RNA  polimerase  beserta  kofaktor-kofaktornya  dari  untai  DNA
cetakan.  Begitu  pula  halnya  dengan  molekul  RNA  hasil  sintesis.  Hal  ini  terjadi  ketika
RNA polimerase mencapai urutan basa tertentu yang disebut dengan terminator.
Terminasi  transkripsi  dapat  terjadi  oleh  dua  macam  sebab,  yaitu  terminasi  yang
hanya bergantung kepada urutan basa cetakan (disebut terminasi diri) dan terminasi yang
memerlukan kehadiran suatu protein khusus (protein  rho). Di antara keduanya terminasi
diri  lebih  umum  dijumpai.  Terminasi  diri  terjadi  pada  urutan  basa  palindrom  yang
diikuti oleh beberapa adenin (A). Urutan palindrom adalah urutan yang sama jika dibaca
dari dua arah yang berlawanan. Oleh karena urutan palindom ini biasanya diselingi oleh
beberapa  basa  tertentu,  maka  molekul  RNA  yang  dihasilkan  akan  mempunyai  ujung
terminasi berbentuk batang dan kala (loop) seperti pada Gambar 5.1.
Inisiasi transkripsi tidak harus menunggu selesainya transkripsi sebelumnya. Hal ini
karena  begitu RNA  polimerase  telah  melakukan pemanjangan 50 hingga  60 nukleotida,
promoter  dapat  mengikat  RNA  polimerase  yang  lain.  Pada  gen-gen  yang  ditranskripsi
dengan  cepat  reinisiasi  transkripsi  dapat  terjadi  berulang-ulang  sehingga  gen  tersebut
akan  terselubungi  oleh  sejumlah  molekul  RNA  dengan  tingkat  penyelesaian  yang
berbeda-beda.

Transkripsi pada Prokariot
Telah  dikatakan  di  atas  bahwa  transkripsi  merupakan  proses  sintesis  RNA  yang
dikatalisis oleh  enzim  RNA  polimerase.  Berikut  ini  akan diuraikan  sekilas  enzim  RNA





50


polimerase  pada  prokariot,  khususnya  pada  bakteri  E.coli,  promoter  70,  serta  proses
transkripsi pada organisme tersebut.
                                                   urutan penyela

       5’                                                                                                           3’ 
         A T T A A A G G C T C C T T T T G G A G C C T T T T T T T T          DNA
         T A A T T  T C C G A G GA AA A C C T C G G A A AAA A AA
       3’                                                                                                           5’

transkripsi


                                                          U    U
                                                       U          U
                                                          C     G
                                                          C     G
                                                          U     A
                                                          C     G
                                                          G     C      RNA
                                                          G     C
                                                          A     U
                                                          A     U
              5’                                         A     U                            3’ 
                                        A   U   U                 U   U   U   U   U      
                             Gambar 5.1 Terminasi sintesis RNA menghasilkan 
                                                   ujung berbentuk batang dan kala


RNA polimerase E. coli
Enzim RNA polimerase pada  E. coli sekurang-kurangnya terdiri atas lima subunit,
yaitu  alfa  (),  beta  (),  beta  prima  (’),  omega  (),  dan  sigma  ().  Pada  bentuk
lengkapnya,  atau  disebut  sebagai  holoenzim,  terdapat  dua  subunit    dan  satu  subunit
untuk  masing-masing  subunit  lainnya  sehingga  sering  dituliskan  dengan  2’. 
Holoenzim RNA polimerase diperlukan untuk inisiasi transkripsi. Namun, untuk elongasi
transkripsi  tidak  diperlukan  faktor    sehingga  subunit  ini  dilepaskan  dari  kompleks





51


transkripsi  begitu  inisiasi  selesai.  Sisanya,  yakni  2’,  merupakan  enzim  inti  (core
enzyme) yang akan melanjutkan proses transkripsi.
Laju  sintesis  RNA  oleh  RNA  polimerase  E.  coli  dapat  mencapai  sekitar  40
nukleotida per detik pada suhu 37C. Untuk aktivitasnya enzim ini memerlukan kofaktor
Mg2+.  Setiap  berikatan  dengan  molekul  DNA  enzim  RNA  polimerase  E.  coli  dapat
mencakup daerah sepanjang lebih kurang 60pb.
Meskipun  kebanyakan  RNA  polimerase  seperti  halnya  yang  terdapat  pada  E.  coli
mempunyai  struktur  multisubunit,  hal  itu  bukanlah  persyaratan  yang  mutlak.  RNA
polimerase pada bakteriofag T3 dan T7, misalnya, merupakan rantai polipeptida tunggal
yang ukurannya jauh lebih kecil daripada RNA polimerase bakteri. Enzim tersebut dapat
menyintesis RNA dengan cepat, yaitu sebanyak 200 nukleotida per detik pada suhu 37C.

Subunit 
Dua  subunit   yang  identik  terdapat  pada  RNA  polimerase  inti.  Kedua-duanya
disandi  oleh  gen  rpoA.  Ketika  bakteriofag  T4  menginfeksi  E.coli,  subunit    akan
dimodifikasi  melalui  ribosilasi  ADP  suatu  arginin.  Hal  ini  berkaitan  dengan
berkurangnya  afinitas  pengikatan  promoter  sehingga  subunit   diduga  kuat  memegang
peranan dalam pengenalan promoter.

Subunit 
Seperti  halnya  subunit  ,  subunit    juga  terdapat  pada  RNA  polimerase  inti.
Subunit ini diduga sebagai pusat katalitik RNA polimerase, yang dibuktikan melalui hasil
penelitian  mengenai  penghambatan  transkripsi  menggunakan  antibiotik.  Antibiotik
rifampisin  merupakan  inhibitor  potensial  bagi  RNA  polimerase  yang  menghalangi
inisiasi  tetapi tidak mempengaruhi elongasi.  Kelompok antibiotik  ini  tidak  menghambat
polimerase  eukariot  sehingga  sering  digunakan  untuk  mengatasi  infeksi  bakteri  Gram
positif  dan  tuberkulosis.  Rifampisin  telah  dibuktikan  berikatan  dengan  subunit  ,  dan
mutasi-mutasi yang menyebabkan resistensi terhadap rifampisin telah dipetakan pada gen
rpoB,  yaitu gen yang  menyandi subunit .   Selanjutnya,  kelompok  antibiotik yang lain,
yakni  streptolidigin,  ternyata  menghambat  elongasi  transkripsi,  dan  mutasi-mutasi  yang
menyebabkan resistesi terhadap antibiotik ini juga dipetakan pada gen rpoB.  Kedua hasil





52


penelitian tersebut mendukung pendapat bahwa subunit  diduga mempunyai dua domain
yang bertanggung jawab terhadap inisiasi dan elongasi transkripsi.

Subunit ’
Subunit ’ juga terdapat pada RNA polimerase inti. Subunit yang disandi oleh gen
rpoC  ini  mengikat  dua  ion  Zn2+  yang  diduga  berpartisipasi  dalam  fungsi  katalitik
polimerase.  Suatu  polianion,  yakni  heparin,  terbukti  mengikat  subunit  ’.  Heparin
menghambat  transkripsi  secara  in  vitro  dan  juga  berkompetisi  dengan  DNA  dalam
pengikatan  RNA  polimerase.  Hal  ini  mendukung  pendapat  bahwa  subunit  ’  diduga
bertanggung jawab terhadap pengikatan DNA cetakan.

Faktor 
Faktor    yang  paling  umum  dijumpai  pada  E.  coli  adalah  70  (disebut  demikian
karena  mempunyai  berat  molekul  70  kDa).  Pengikatan  faktor    pada  RNA  polimerase
inti  akan  mengubah  enzim  tersebut  menjadi  holoenzim.  Faktor    memegang  peranan
yang  penting  dalam  pengenalan  promoter  tetapi  tidak  diperlukan  untuk  elongasi
transkripsi.  Kontribusi  faktor    dalam  pengenalan  promoter  adalah  melalui  penurunan
afinitas  enzim  inti  terhadap  tempat-tempat  nonspesifik  pada  molekul  DNA  hingga  104,
disertai dengan peningkatan afinitas terhadap promoter. 
Banyak  organisme  prokariot,  termasuk  E.  coli,  mempunyai  beberapa  faktor  .
Semuanya  terlibat  dalam  pengenalan  kelompok-kelompok  promoter  tertentu.  Faktor  
dilepaskan dari RNA polimerase  inti ketika  sintesis RNA mencapai panjang 8 hingga  9
nukleotida.  Enzim  inti  tersebut  kemudian  akan  bergerak  di  sepanjang  molekul  DNA
sambil  menyintesis untai  RNA.  Sementara  itu,  faktor    dapat  segera  bergabung  dengan
RNA polimerase inti lainnya dan melakukan inisiasi transkripsi kembali. Jumlah faktor 
di  dalam  sel  lebih  kurang  hanya  30%  dari  jumlah  RNA  polimerase  inti sehingga hanya
sepertiga  di  antara  kompleks  RNA  polimerase  yang  akan  dijumpai  dalam  bentuk
holoenzim pada suatu waktu tertentu.

Promoter 70 pada E. coli
Seperti  telah dikatakan di  atas,  promoter merupakan  tempat  tertentu pada molekul
DNA  yang  mempunyai  urutan  basa  spesifik  untuk  pengikatan  RNA  polimerase  dan